Call for Global Ban on Nuclear Weapons Testing - Bahasa

Ajakan untuk Melarang Uji Coba Senjata Nuklir

Oleh Katsuhiro Asagiri dan Ramesh Jaura

HIROSHIMA (IPS) - Ketika komunitas internasional tengah bersiap memperingati ulang tahun kedua puluh dibukanya Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Menyeluruh/Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty (CTBT) untuk ditandatangani tahun depan, sekelompok orang yang cukup dikenal dalam profesi mereka (GEM) meluncurkan kampanye terpadu yang bertujuan untuk memperjuangkan ditetapkannya larangan pengujian senjata nuklir secara global.

GEM, yang diprakarsai oleh Lassina Zerbo, Sekretaris Eksekutif Komisi Persiapan Organisasi CTBT (CTBTO) bulan September 2013, di markas PBB di New York, mengadakan pertemuan pada tanggal 24-25 Agustus di Hiroshima, sebuah kota modern di Pulau Honshu Jepang, yang sebagian besar hancur oleh bom atom selama Perang Dunia Kedua pada tahun 1945.


Hanya Hiroshima dan Nagasakilah, dua kota di dunia yang pernah mengalami ledakan bom atom yang menghancurkan dan brutal dan membawa penderitaan mendalam pada anak-anak, para wanita dan pria yang tak bersalah, kisah yang akan terus diceritakan oleh para ‘hibakusha’ (penyintas serangan bom atom).

“Tidak ada tempat lain selain di daerah ini di mana kebutuhan untuk tercapainya pemberlakuan Perjanjian menjadi lebih nyata, dan tidak ada kelompok yang diperlengkapi secara lebih baik dengan pengalaman dan keahlian untuk lebih jauh mendukung aksi ini daripada Kelompok Orang-orang yang Dikenal/Group of Eminent Persons,” ujar Sekretaris Eksekutif CTBTO Zerbo kepada para hadirin.

GEM merupakan kelompok kelas atas yang terdiri dari pribadi-pribadi yang menonjol serta para ahli yang dikenal secara internasional yang bertujuan untuk mendukung pelarangan uji coba senjata nuklir secara global, mendukung serta melengkapi usaha-usaha untuk menetapkan gerakan ini menjadi sebuah Taktat/Perjanjian, dan juga menyegarkan kembali usaha keras dari dunia internasional untuk mencapai tujuan ini.

Pertemuan dua hari ini diadakan oleh pemerintah Jepang dan kota Hiroshima, di mana Sekretaris Eksekutif CTBTO Zerbo berpartisipasi dalam peringatan ketujuh puluh dijatuhkannya bom atom pada awal Agustus.

Pada malam pertemuan, Zerbo bergabung dengan mantan Menteri Pertahanan Amerika Serkat dan anggota GEM William Perry serta Gubernur Hidehiko Yuzaki sebagai panelis dalam kuliah umum mengenai pelucutan senjata nuklir yang dihadiri oleh sekitar 100 orang, termasuk banyak mahasiswa.

Dalam sebuah pernyataan pembukaan, Zerbo mendesak para pemimpin global untuk menggunakan momentum yang diciptakan oleh perjanjian yang baru saja disepakati antara negara-negara E3+3 (Tiongkok, Prancis, Jerman, Federasi Rusia, Inggris dan Amerika Serikat) dan Iran untuk menyuntikkan harapan dan energi positif yang diperlukan dalam diskusi pengurangan dan pelucutan nuklir.

“Yang diajarkan oleh perjanjian dengan Iran ialah bahwa multilateralisme pengendalian senjata dan keamanan bukan hanya mungkin, tetapi juga merupakan cara yang paling efektif untuk menangani tantangan-tantangan abad kedua puluh satu yang rumit dan berlapis. [Hal itu] juga mengajarkan kepada kita bahwa nilai perjanjian keamanan atau traktat pengendalian senjata apa pun terletak pada kredibilitas ketentuan verifikasinya. Sehubungan dengan perjanjian Iran, penggunaan CTBT harus dinilai dari efektivitas verifikasi dan mekanisme pelaksanaannya. Dalam area ini, tidak ada yang perlu dipertanyakan,” ujar Zerbo.

Juga berbicara pada sesi pembukaan, Perry mengungkapkan keyakinannya yang teguh bahwa ratifikasi CTBT sesuai dengan tujuan nasional AS, tidak hanya pada tingkat internasional tetapi juga secara persis pada tingkat domestik untuk kepentingan keamanan nasional. Ia berpendapat bahwa iklim geopolitis saat ini mengandung risiko bagi masuknya pelaksanaan gerakan ini dan mengulangi pentingnya mempertahankan moratorioum mengenai uji coba nuklir.

GEM mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh Rencana Aksi yang disetujui dalam pertemuannya di New York (Sep. 2013), Stockholm (Apr. 2014) dan Seoul (Jun. 2015). Grup ini mempertimbangkan iklim internasional saat ini dan menentukan bahwa, dengan semakin mendekatnya ulang tahun kedua puluh pembukaan penandatanganan Perjanjian Pelarangan Nuklir Menyeluruh, ada kebutuhan yang mendesak untuk menyatukan komunitas internasional dalam mendukung pencegahan proliferasi dan pengembangan lebih jauh senjata nuklir dengan tujuan akhir memusnahkan senjata-senjata itu secara total.

Para peserta pertemuan ini mendiskusikan berbagai isu yang relevan dan berdebat mengenai ukuran-ukuran praktis yang dapat diambil guna mewujudkan gerakan ini menjadi sebuah Traktat/Perjanjian, terutama sebagai pendahuluan Pasal XIV Konferensi Pemfasilitasian Gerakan menjadi Perjanjian CTBT, yang akan dilangsungkan pada akhir September di New York, dengan Jepang dan Kazakhstan sebagai ketua bersama.

Seratus delapan puluh tiga negara telah menandatangani Traktat tersebut, di mana 163 di antaranya juga telah meratifikasinya, termasuk tiga negara yang memiliki senjata nuklir: Prancis, Rusia dan Inggris. Tetapi 44 negara pemilik teknologi nuklir spesifik harus menandatangani dan meratifikasinya sebelum CTBT dapat diberlakukan. Dari negara-negara ini, delapan masih belum turut serta: Tiongkok, Mesir, India, Iran, Israel, Korea Utara, Pakistan dan Amerika Serikat. India, Korea Utara dan Pakistan belum menandatangani CTBT.

GEM menggunakan Deklarasi Hiroshima, yang menegaskan ulang komitmen grup untuk mencapai penghapusan senjata nuklir secara global dan, secara khusus, pemberlakuan CTBT sebagai “salah satu pengukuran praktis yang penting untuk pelucutan non-proliferasi nuklir”, dan, di antara yang lainnya, kebutuhan untuk “sebuah pendekatan multilateral untuk mengajak pemimpin dari . . . delapan negara yang belum menandatanganinya dengan tujuan untuk memfasilitasi proses ratifikasi mereka masing-masing.”

GEM memanggil “para pemimpin politik, pemerintah, masyarakat sipil dan komunitas sains internasional untuk meningkatkan kesadaran pentingnya peran CTBT dalam pelucutan dan non-proliferasi nuklir dan dalam pencegahan konsekuensi penggunaan senjata nuklir yang sangat menghancurkan bagi umat manusia.” (IPS | 27 Agustus 2015)